MANADOTRIBUNE.COM – Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Utara, Ridwan Hidayat menegaskan, bahwa pelaksanaan hajatan besar dan strategis seperti Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama harus menjadi momentum untuk melahirkan pemimpin yang visioner, berintegritas, dan merakyat.
Menurut Kader Penggerak NU tersebut, tantangan NU ke depan semakin kompleks, mulai dari tantangan digitalisasi, disrupsi informasi, lemahnya ekonomi umat, hingga krisis kaderisasi di tingkat bawah. Muktamar bukan hanya soal siapa yang menjadi Rais ‘Aam dan siapa yang menjadi Ketua Umum.Ini soal arah jam’iyah 5 sampai 10 tahun ke depan.
”Kita butuh pemimpin yang fisioner, yang mampu menjaga khazanah keilmuan pesantren, tapi juga cakap membaca masa depan,” ujar Ridwan Hidayat saat dimintai keterangan di Manado, Selasa (11/08/2026).
Ridwan menilai, kriteria pemimpin PBNU mendatang harus memiliki tiga hal:
Pertama, memiliki kedalaman ilmu dan sanad keulamaan yang jelas.
Kedua, memiliki visi kebangsaan dan jaringan global yang kuat.
Ketiga, dan yang paling penting, mau turun dan menghidupkan struktur hingga bawah.
Pemimpin visioner itu bukan yang hanya besar di Jakarta, tapi yang mampu membuat PCNU dan Ranting di pelosok seperti di Sulawesi Utara, menjadi mandiri, berdaya, dan merasakan kehadiran PBNU,” tegasnya.
Ia juga menitipkan pesan kepada seluruh Muktamirin dari seluruh Indonesia agar menjaga marwah Muktamar dengan mengedepankan musyawarah mufakat, akhlakul karimah, dan menjauhi segala bentuk transaksional.
”Kami dari PWNU Sulawesi Utara menitipkan harapan besar siapapun yang terpilih harus menjadi pemersatu, merawat jagat membangun peradaban, dan membawa NU semakin dicintai umat, ” ujar Ridwan mengakhiri perbincangan.(MDT)






