MANADOTRIBUNE.COM – Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menyelenggarakan seminar bertajuk ‘’Generasi Muda Sulawesi Utara sebagai Penggerak Ketahanan Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal’’ pada, Senin (20/4/2026).
Kegiatan ini diadakan bekerjasama dengan Pemuda Inspirasi Nasional (PIN), menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi, tokoh adat, dan pemuda untuk membahas masa depan ketahanan pangan di Sulawesi Utara dalam konteks nasional.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber utara yakni, Dekan Fakultas Pertanian Unsrat; Prof Ir Dedie Tooy, M.Si, P.hD, Praktisi Pertanian Sulut; Ir Lyndon Pangemanan, ME, Tokoh Adat Minahasa; Belarmino Lapong, serta Ketua DPW Sulut Forum Alumni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Combyan Lombongbitung, S.IP.
Pada kesempatan itu Belarmino Lapong menekankan pentingnya kearifan lokal dalam menjaga ketahanan pangan. Ia mengangkat nilai budaya mapalus, yakni semangat gotong royong tanpa imbalan, sebagai fondasi solidaritas pangan masyarakat Minahasa.
‘’Ketahanan pangan adalah nyawa dan tanah adalah ibu. Orang Minahasa tidak akan membiarkan keluarganya kelaparan, ‘’ ujar Belarmino meyakinkan.
Ia juga mengaitkan nilai tersebut dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 2 yaitu, zero hunger, yang menurutnya telah lama dipraktekkan masyarakat Minahasa jauh sebelum dicanangkan pada tahun 2015.
Sementara itu, Prof Ir Dedie Tooy menyoroti bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan, tetapi juga kualitas, keamanan, keberagaman serta keterjangkauan pangan bagi rumah tangga, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996.
‘’Ketahanan pangan juga berkaitan erat dengan dengan swasembada pangan, ketersediaan air, serta penguatan ekonomi kreatif. Upaya mencapai swasembada pangan merupakan bagian penting dalam mendorong kemandirian bangsa, yang dapat ditempuh melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi, ‘’ ujarnya.
Dari sisi Praktisi, Dr Ir Lyndon Pangemanan menekankan tiga karakter yang perlu dimiliki pemuda dalam memandang sektor pertanian. Yaitu, pola pikir, pola rasa dan pola tindak.
‘’Pemuda harus meninggalkan anggapan bahwa petani adalah profesi kelas bawah dan pertanian itu kotor, berat serta tidak menjanjikan. Mereka perlu membangun perspektif baru bahwa petani adalah agripreneur dan pertanian merupakan agribisnis modern berbasis teknologi, ‘’ ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemuda perlu memiliki kesadaran sebagai bagian dari solusi bangsa, tidak hanya berorientasi pada keuntungan tetapi juga memberi kontribusi dalam pemenuhan pangan,
Upaya tersebut dapat dimulai dengan langkah sederhana. Misalnya hidroponik atau kebun kampus, pembuatan konten edukasi pertanian digital, hingga langkah strategis menjadi agripreneur muda.
Sedangkan Combyang Lombongbitung menyampaikan bahwa ketahanan pangan ditentukan oleh tiga unsur utama. Yakni bibit, air dan pupuk. Ia mengapresiasi kebijakan pemerintah, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2025, yang mereformasi sistem distribusi pupuk agar lebih efesien dan tepat sasaran melalui pemanfaatan teknologi.
‘’Pemerintah melalui BUMN PT Pupuk Indonesia telah memainkan peran sentral dalam mendukung ketahanan pangan, ‘’ ujarnya. Ia menambahkan tata kelola pupuk saat ini semakin sederhana, di mana petani terdaftar dapat menebus pupuk subsidi melalui aplikasi iPubers hanya dengan menunjukkan KTP.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan 74 ribu ton pupuk subsidi di Sulawesi Utara pada tahun 2026, dengan realisasi sekitar 13 persen hingga April.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan dari pemuda guna mencegah oknum yang menjual Pupuk diatas Harga Eceran Tertinggi (HE). “Ketahanan pangan adalah tanggungjawab bersama, Pemuda perlu turut mengawal agar distribusi tepat sasaran. Petani memperoleh manfaat serta inovasi dan koordinasi terus ditingkatkan, ‘’ ujar Combyan lagi.
Sebagai penutup, seminar ini tidak hanya membuka ruang diskusi di kalangan akademisi dan pemuda. Tetapi juga mendorong tindaklanjut konkret berupa penguatan kolaborasi antara kampus, komunitas dan pemangku kepentingan terkait.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi inisiatif berkelanjutan, seperti pengembangan program pertanian berbasis kampus dan peningkatan literasi pertanian di kalangan generasi muda, guna mendukung ketahanan pangan di tingkat daerah maupun nasional.






