AMURANG, MANADOTRIBUNE.COM – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Sulawesi Utara Densus 88 Anti Teror Polri melakukan pertemuan dan Focus Group Discussion (FGD) serta sosialisasi Kebangsaan bersama jajaran Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara yang terletak di Desa Tawaang Timur, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan.
Tujuannya memperkuat sinergi pemberantasan paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstrimisme, dan Terorisme (IRET) di lingkungan Politeknik Pelayaran.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sam Ratulangi Politeknik Pelayaran, Sulawesi Utara, pada Rabu (26/11/2025) pukul 09.00 Wita, sesi pertama bersama Pegawai Politeknik Pelayaran dan pukul 13.00 Wita, sesi kedua bersama Taruna/Taruni Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Kasatgaswil Sulut Densus 88 AT Polri AKBP I Nyoman Sarjana, S.I.K.,M.A.P, beserta Tim Satgaswil Sulut.
Sementara itu dari POLTEKPEL hadir DIREKTUR POLITEKNIK PELAYARAN SULUT (POLTEKPEL SULUT); CAPT. Semuel Palembangan, M.T., M.Mar., didampingi WAKIL DIREKTUR I; Muhammad Sapril Siregar, S.S.T.Pel, M.Pd., WAKIL DIREKTUR II; Jeihn Novita C. Budiman, S.S., M.Pd., WAKIL DIREKTUR III : Harris R. Dahlan, S.Si.T, M.M., serta Tim dari POLTEKPEL Sulut.
DIREKTUR POLITEKNIK PELAYARAN SULUT (POLTEKPEL SULUT) : CAPT. Semuel Palembangan, M.T., M.Mar., dalam sambutan menegaskan, pentingnya membangun kesadaran civitas akademika terhadap ancaman radikalisme dan terorisme di lingkungan POLTEKPEL.
Ia menyatakan bahwa POLTEKPEL siap menjadi mitra strategis Densus 88 AT Polri dalam pencegahan paham IRET.
“Kami siap mendukung penuh program Densus 88 AT, termasuk dalam membantu penyaringan tenaga pengajar agar lingkungan POLTEKPEL steril dari paham IRET. Kami juga berharap sinergi dengan Densus 88 dapat memperkuat pengawasan terhadap aktivitas Taruna/Taruni di luar kampus, ” ujar Direktur.
Sedangkan Kasatgaswil Sulut Densus 88 AT Polri; AKBP I Nyoman Sarjana, S.I.K.,M.A.P menjelaskan bahwa Densus 88 saat ini menjalankan dua pendekatan utama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan terorisme.
Pertama, soft approach melalui pembinaan kepada narapidana terorisme (napiter), eksnapiter, serta penyadaran masyarakat terhadap bahaya paham IRET.
Kedua, hard approach melalui penegakan hukum terhadap jaringan pelaku terorisme.
Diabjuga mengajak Taruna/Taruni untuk berperan aktif sebagai “Duta Cegah IRET”, terutama bagi semua yang akan menjalani Pendidikan.
Taruna/Taruni memiliki peran penting dalam menyebarkan nilai moderasi beragama dan wawasan kebangsaan di tengah masyarakat juga di lingkungan masing-masing.
“Peran Pegawai dan Taruna/Taruni sangat strategis dalam membangun narasi tandingan terhadap ideologi kekerasan yang masif dipropagandakan di media sosial. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, I Nyoman Sarjana mengajak agar Pegawai dan Taruna/Taruni ikut aktif mencegah beredarnya Paham IRET dengan melaporkan konten radikan ke call center Satgaswil Sulut Densus 88 at Polri (0821-9377-2488 call center wa)
Dalam sesi diskusi, kedua pihak sepakat bahwa upaya pencegahan paham IRET tidak dapat dilakukan oleh aparat keamanan semata, namun memerlukan keterlibatan seluruh elemen bangsa — termasuk kalangan akademisi, mahasiswa, tokoh agama, media, dan masyarakat luas.
Kegiatan audiensi dan sosialisasi yang berlangsung dengan penuh semangat kebangsaan ini diakhiri dengan sesi foto bersama antara Satgaswil Sulut Densus 88 AT Polri dan jajaran pimpinan Politeknik Pelayaran Sulawesi Utara.
Sebagai tindak lanjut, kedua pihak berkomitmen untuk bersama-sama melakukan pencegahan penyebaran paham IRET di lingkungan POLTEKPEL Sulut, melalui kolaborasi Pegawai serta Taruna/Taruni.(ado)







