Kapolres, Dandim Jadi Narsum Enum IRT BNPT, 7 Daerah di Sulut Target Survei Risiko Terorisme

Enumerator saat melakukan wawancara di Kantor Kemenag Kota Tomohon
Enumerator saat melakukan wawancara di Kantor Kemenag Kota Tomohon

MANADOTRIBUNE.COM Di tengah keseharian masyarakat Sulawesi Utara yang penuh keramahan dan toleransi, ada kerja senyap yang sedang dilakukan. Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulut turun langsung ke lapangan, untuk mendengar, mencatat, dan merangkai potongan informasi penting: pemetaan risiko terorisme dalam menunjang Program Gubernur Sulut Mayjen TNI Purn Yulius Selvanus SE dalam menjaga stabilitas daerah nyiur melambai ini.

Pada 29–30 September 2025, 14 enumerator dari berbagai profesi mulai turun ke sejumlah kabupaten/kota di Sulut.

Tim survei ini menyambangi Kantor Kementerian Agama, Badan Kesbangpol, Kodim, hingga Polres, bahkan berbincang dengan masyarakat biasa. Pertanyaan-pertanyaan sederhana muncul:

“Apa yang bisa memicu intoleransi?”

“Bagaimana paham radikal bisa masuk?”

Ketua FKPT Sulut Johnny Alexander Suak, SE, M.Si, yang juga Kepala Badan Kesbangpol Daerah Sulut, menegaskan bahwa data ini bukan sekadar angka.

“Pencegahan terorisme harus dimulai dari hulu. Bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi juga kesadaran, literasi kebangsaan, dan ketahanan sosial. Itulah mengapa data lapangan ini penting,” ujarnya, Kamis (2/10/2025)

Prof Dr Ahmad Rajafi selaku Rektor IAIN Manado sekaligus Kabid Penelitian FKPT Sulut, menambahkan bahwa pendidikan dan keagamaan adalah kunci.

“Radikalisme sering masuk lewat narasi intoleran. Justru lewat pendidikan dan agama kita bisa membangun benteng terkuat untuk menangkisnya,” jelasnya kepada Manadotribune.com, kemarin.

Dari lapangan, suara para enumerator memberikan perspektif berbeda.

“Kadang masyarakat tidak sadar bahwa obrolan kecil di warung kopi bisa jadi pintu masuk ideologi yang salah. Tugas kami mendengarkan itu, lalu memetakannya,” kata Rudi, salah satu enumerator dari kalangan akademisi.

Sementara Musly, tokoh masyarakat di Bolaang Mongondow, mengungkapkan rasa syukurnya.

“Kami merasa diperhatikan. Dengan survei ini, kami jadi tahu bahwa menjaga kerukunan bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga tanggung jawab warga,” ujarnya sambil tersenyum.

Lebih dari sekadar survei, kegiatan ini adalah cerita tentang kerja nyata yang senyap, bagaimana ilmu pengetahuan, riset, dan partisipasi masyarakat sipil bisa menjadi tameng melawan terorisme.

Sulawesi Utara selama ini dikenal rukun, namun FKPT tak ingin lengah.

Dengan pemetaan risiko yang terukur, daerah ini diharapkan semakin tangguh menghadapi infiltrasi paham radikal. Karena menjaga keamanan bukan hanya urusan aparat, melainkan tanggung jawab bersama.

FKPT Sulut telah memberi teladan: bergerak nyata, bekerja senyap, tetapi hasilnya terasa untuk semua.

Tim enumerator yang turun di tujuh Kabupaten/Kota yang menjadi sampel di Sulut antara lain: Drs Denny Rantung selaku Wakil Ketua dan Bendahara FKPT Sulut bersama Aswin D Lumintang, S.Sos selaku Kabid Media Hukum dan Humas FKPT Sulut yang melakukan survei IRT di Kota Tomohon.

Kemudian Amelia Diana Sondakh, Sekretaris FKPT Sulut dan Vonny Pangalila, Kabid Perempuan FKPT Sulut melakukan survei di Kota Manado.

Manly A Saroinsong dan Franky Novan Rengkung melakukan survei di Kabupaten Minahasa Selatan

Sedangkan Winda Mintjelungan dan Emro Nayoan melakukan survei di Kota Kotamobagu. Kemudian Taufiq dan Syahrir Laya di Kabupaten Bolaang Mongondow.

Tim lainnya yakni; James Tulangow dan Tommy Saune melakukan survei di Kota Bitung, Fachrudin dan Renald ke Kabupaten Kepulauan Talaud.(ado)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *